#CatatanSenja

Di banyak kesempatan senja menjemput skenario yang bermain di dalam pikiranku. ‘Berlari‘ adalah catatan senja pertamaku.

Lagi-lagi pikiran tentang apa yang menanti kembali datang menghantui

Tak dapatkah aku hanya menikmati hari-hari tanpa rasa getir dan khawatir?

Ingin rasanya berhenti dan tak peduli akan masa depan yang menanti

Ingin rasanya berlari dan jadi pemenang yang abadi tanpa harus mengkhawatirkan diri di masa depan nanti

Tapi rasa takut ini terus berteriak, membuat pikiran dan hati sesak

Setakut itukah aku kepada hal yang menanti di ujung sana?

Tak bisakah aku memalingkan muka namun tetap berharap sang bahagia akan datang menjemputku dengan lapang dada?

__

22:39 Jatinangor, 2015

 

Advertisements

Ain’t Your Usual New Year Resolutions

When it comes to new year people tend to write their goals and resolutions. I did mine three days ago. I was less exciting compared to the time when I wrote my 2016 resolutions tho, perhaps because of the thesis I need to finish as soon as possible (yikes).

I was at home, eating instant noodles while watching Daddy Day Care when this thought suddenly came (back) into my mind : How am I going to spend 365 days and more ahead at home? This thought may sounds weird. I even resist myself to use the word ‘spend’ rather than ‘survive’. Its not like I don’t like being home tho.

When I was in high school, I lived in dormitory for three years. I only went back home twice a year, maximum a month/each. I went to university in another city, so I lived in a kost for three and a half year. The term break would be 2 months maximum, so four months in a year. Its just weird to imagine myself staying at home, doing my regular activities and all, all year.

For the past 3,5 years, for me, home is a place where you could get lazy all day without worrying anything. I don’t think it would be valid now. I’m still at my last semester of studies, but I have decided to write my thesis from home (which I think I have started to regret it, how am I gonna fight all the ‘home gravity’?!?).

Living with my family is both a luxury and a challenge. During the time when I didn’t live at home, I learned that being away from your precious ones makes you more grateful to have them and appreciate your time together when you get to meet them. I’m afraid due to loudness in my house, I won’t be much as grateful as I am until now (I haven’t even moved officially from kos-an to home).

I think I need to add two more resolutions this year.

To live at home lively and comfortably.

To always be grateful having to your loved ones next door. 

 

This writing might not fully explain whats actually running inside my head, but at the very least I managed to get some of it out (yass!).

Anyway, 2017 lets the adventure begins!

Matahari

Hasil gambar untuk sunrise forest girl tumblr

Source: favim.com

Kamu yang selalu datang menjemput pagi

Aku yang enggan membuka mata,

berharap masih ada waktu lima menit lagi

Aku yang berjalan ke arahmu

Kamu yang tersenyum,

namun tak kunjung menggapai tanganku

Kadang sembunyi,

tapi tak pernah pergi

Meski jauh di ufuk,

hangatmu selalu memeluk

Halo matahari,

senang bertemu denganmu lagi.

Catatan Tanpa Warna (1)

Bagian paling sulit saat mencoba menuangkan pikiran  yang sudah lari kesana kemari ke setiap sudut kepala ini adalah apa yang harus ditulis terlebih dahulu or in short, how to start it. Jadi pikiran ini muncul saat saya mulai membaca kisah Tsukuru Tazaki yang  digambarkan sebagai seseorang tanpa warna oleh Haruki Murakami, namun, in contrast, justru membuat merah, biru, hitam, putih menjadi kata-kata yang menggambarkan warna.

So, what is your color, Din? Do you have any?

Pertanyaan ini muncul setelah saya sudah seperempat jalan membaca buku Murakami tersebut.

Saya pun berusaha mencari jawaban dari pertanyaan tersebut di sela-sela kemacetan Jakarta yang menjadi sarapan mata setiap berangkat dan pulang kerja (re:magang) dua minggu belakangan ini. Lalu bagian otak saya yang berpikir dalam mencari jawaban tersebut mulai bertemu dengan pikiran-pikiran kompleks saya yang lain, simply stated as those all-kind of life challenges (I dont prefer to called it as problems, because it will pass if only we embrace it, so challenge it is!). Kompleksitas pikiran saya pun mulai beririsan dengan arsip memori.

Ada yang mengkatakan bahwa setiap warna memiliki makna. Saya pun mulai mencoba memaknai diri saya untuk menemukan sebuah warna yang dapat menggambarkan  diri saya dengan melihat kembali seperti apakah sosok seorang Adinda selama ini.

Sejak SD, bahkan TK, saya selalu dikelilingi banyak teman. Saya tidak pernah merasa kesulitan dalam membuka pembicaraan dengan siapa pun. I felt like I could fit myself anywhere because I always find myself very talkative (re: bawel). You could say, Im a loud person and sure,  I’d like to be noticed. Being pretty confidence, I have always had a role in my surroundings. Looking it that way, I supposed to have a bright color, right? But then, I just realized that growing up makes me doubt myself on guessing what color do I have. I just turned 21, few months ago, here I am in the phase of self-making. Sebuah fase di mana seseorang dapat terbang lebih tinggi dan jatuh lebih dalam.

Looking at my today-self,

Saya tetap bawel dan ingin mendapatkan rekognisi, namun it just doesnt go with everyone anymore. Dulu, saya bukan tipikal orang yang bisa lama-lama beraktivitas sendiri, misalnya makan sama teman atau sekedar ngobrol tidak penting. Saya harus berinteraksi dengan orang lain dalam sehari. Namun, sekarang it doesnt matter anymore. I find solitude, joyous and pretty much pleasant.

Dulu saya selalu ingin membuka pembicaraan dengan semua orang, to get noticed, to have a role, being bawel as its best, but lately I just dont feel like doing it anymore.

Saya pun melihat ke orang-orang disekeliling saya. Lingkaran yang dulu sangat besar, kini menjadi semakin kecil. Lalu saya menyadari, orang-orang di sekitar saya hanya dia dia lagi. Udah habis masanya ‘main’ banyak-banyakan teman atau rungsing mencari perhatian banyak orang.

They said, this is part of growing up.

I thought, maybe, this is me losing my color—which I dont even know yet what color it is,

this is me fading.

...(1/2)

Seusai Membaca 

Rasanya kalau seusai membaca cerita, entah kisah nyata atau khayalan belaka, ingin rasanya tinggal di dalamnya. Melebur dengan setiap kata yang dirangkai sedemikian rupa, mungkin berkenalan dengan tokoh-tokohnya. Namun pikiran itu hanya bertahan sampai detik ketiga atau mungkin kelima sebelum kembali tersadar bahwa ini dunia nyata. Perasaan ingin melebur dengan cerita berubah menjadi rasa ingin menulis yang serupa. Merangkai kata, membentuk alur cerita, dan menarik pembaca untuk menyatu bersamanya.

May 10. 01:38

Ditulis seusai membaca buku Sabtu Bersama Bapak karya Adhitya Mulya

Dia

Akhir-akhir ini saya semakin merasa bersalah jika tidak meluangkan waktu untuk membaca atau menulis. Pikiran ini terus berbisik, “Tulis apa saja. Satu dua paragraf. Tak masalah.” Dulu setiap saya hilang dari dunia nyata di sela perjalanan dari Jakarta ke Jatinangor atau di bawah hangatnya air panas saat mandi, selalu terbersit frasa-frasa yang entah datangnya dari mana. Saya ingat pernah mencatat beberapa frasa itu di dalam handphone. Jadilah saya mencari catatan itu dan menuliskannya di sini. Catatan singkat yang saya pilih kali ini berbicara tentang cinta, kira-kira hampir dua tahun lalu lamanya.  Inilah “Dia” yang sempat meminjamkan cinta pada saya.

Sekarang kamu sudah tidak mengerti apa itu cinta. Karena cintamu adalah dia. Dia yang ada untuk berbagi segalanya. Tak peduli seberapa panjang kamu bercerita, tak pernah sekalipun dia menyela. Karena bagi dia kaulah bahagia. Namun, kini dia menghilang, melupakanmu dengan mudahnya. Tak ada lagi tegur sapa. Apalagi canda tawa. Yang ada hanya air di pelupuk mata dan sesak yang memeluk dada setiap mendengar namanya.

Dia adalah cinta.

Yang berbalik pergi tanpa menoleh dan bertanya,

“Apakah kamu akan baik-baik saja?” 

Siapa yang sangka saya bisa semelankolis itu saat ‘merasa’ bertemu dengan cinta?

Siapa tahu itu hanya afeksi belaka?

Tapi, apapun sebutannya,

saya bahagia,

karena rasa itu bisa membuat saya merangkai kata.



Ditulis di perjalanan Jatinangor – Jakarta.

17 Mei 2015, ditulis kembali di laman yang lama.