Dia

Akhir-akhir ini saya semakin merasa bersalah jika tidak meluangkan waktu untuk membaca atau menulis. Pikiran ini terus berbisik, “Tulis apa saja. Satu dua paragraf. Tak masalah.” Dulu setiap saya hilang dari dunia nyata di sela perjalanan dari Jakarta ke Jatinangor atau di bawah hangatnya air panas saat mandi, selalu terbersit frasa-frasa yang entah datangnya dari mana. Saya ingat pernah mencatat beberapa frasa itu di dalam handphone. Jadilah saya mencari catatan itu dan menuliskannya di sini. Catatan singkat yang saya pilih kali ini berbicara tentang cinta, kira-kira hampir dua tahun lalu lamanya.  Inilah “Dia” yang sempat meminjamkan cinta pada saya.

Sekarang kamu sudah tidak mengerti apa itu cinta. Karena cintamu adalah dia. Dia yang ada untuk berbagi segalanya. Tak peduli seberapa panjang kamu bercerita, tak pernah sekalipun dia menyela. Karena bagi dia kaulah bahagia. Namun, kini dia menghilang, melupakanmu dengan mudahnya. Tak ada lagi tegur sapa. Apalagi canda tawa. Yang ada hanya air di pelupuk mata dan sesak yang memeluk dada setiap mendengar namanya.

Dia adalah cinta.

Yang berbalik pergi tanpa menoleh dan bertanya,

“Apakah kamu akan baik-baik saja?” 

Siapa yang sangka saya bisa semelankolis itu saat ‘merasa’ bertemu dengan cinta?

Siapa tahu itu hanya afeksi belaka?

Tapi, apapun sebutannya,

saya bahagia,

karena rasa itu bisa membuat saya merangkai kata.



Ditulis di perjalanan Jatinangor – Jakarta.

17 Mei 2015, ditulis kembali di laman yang lama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s