Catatan Tanpa Warna (1)

Bagian paling sulit saat mencoba menuangkan pikiran  yang sudah lari kesana kemari ke setiap sudut kepala ini adalah apa yang harus ditulis terlebih dahulu or in short, how to start it. Jadi pikiran ini muncul saat saya mulai membaca kisah Tsukuru Tazaki yang  digambarkan sebagai seseorang tanpa warna oleh Haruki Murakami, namun, in contrast, justru membuat merah, biru, hitam, putih menjadi kata-kata yang menggambarkan warna.

So, what is your color, Din? Do you have any?

Pertanyaan ini muncul setelah saya sudah seperempat jalan membaca buku Murakami tersebut.

Saya pun berusaha mencari jawaban dari pertanyaan tersebut di sela-sela kemacetan Jakarta yang menjadi sarapan mata setiap berangkat dan pulang kerja (re:magang) dua minggu belakangan ini. Lalu bagian otak saya yang berpikir dalam mencari jawaban tersebut mulai bertemu dengan pikiran-pikiran kompleks saya yang lain, simply stated as those all-kind of life challenges (I dont prefer to called it as problems, because it will pass if only we embrace it, so challenge it is!). Kompleksitas pikiran saya pun mulai beririsan dengan arsip memori.

Ada yang mengkatakan bahwa setiap warna memiliki makna. Saya pun mulai mencoba memaknai diri saya untuk menemukan sebuah warna yang dapat menggambarkan  diri saya dengan melihat kembali seperti apakah sosok seorang Adinda selama ini.

Sejak SD, bahkan TK, saya selalu dikelilingi banyak teman. Saya tidak pernah merasa kesulitan dalam membuka pembicaraan dengan siapa pun. I felt like I could fit myself anywhere because I always find myself very talkative (re: bawel). You could say, Im a loud person and sure,  I’d like to be noticed. Being pretty confidence, I have always had a role in my surroundings. Looking it that way, I supposed to have a bright color, right? But then, I just realized that growing up makes me doubt myself on guessing what color do I have. I just turned 21, few months ago, here I am in the phase of self-making. Sebuah fase di mana seseorang dapat terbang lebih tinggi dan jatuh lebih dalam.

Looking at my today-self,

Saya tetap bawel dan ingin mendapatkan rekognisi, namun it just doesnt go with everyone anymore. Dulu, saya bukan tipikal orang yang bisa lama-lama beraktivitas sendiri, misalnya makan sama teman atau sekedar ngobrol tidak penting. Saya harus berinteraksi dengan orang lain dalam sehari. Namun, sekarang it doesnt matter anymore. I find solitude, joyous and pretty much pleasant.

Dulu saya selalu ingin membuka pembicaraan dengan semua orang, to get noticed, to have a role, being bawel as its best, but lately I just dont feel like doing it anymore.

Saya pun melihat ke orang-orang disekeliling saya. Lingkaran yang dulu sangat besar, kini menjadi semakin kecil. Lalu saya menyadari, orang-orang di sekitar saya hanya dia dia lagi. Udah habis masanya ‘main’ banyak-banyakan teman atau rungsing mencari perhatian banyak orang.

They said, this is part of growing up.

I thought, maybe, this is me losing my color—which I dont even know yet what color it is,

this is me fading.

...(1/2)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s